Wacana Hiburan  di Tengah Luka Bencana, Pemkab Aceh Tengah Malah Hamburkan Anggaran untuk Pacuan Kuda, Rahmat Roza: Urgensinya Di Mana?

Rahmat Roza mengecam rencana pacuan kuda di tengah banjir susulan, menyebutnya tak berempati dan tanpa urgensi. (Foto/dok, ist*)
Rahmat Roza mengecam rencana pacuan kuda di tengah banjir susulan, menyebutnya tak berempati dan tanpa urgensi. (Foto/dok, ist*)

TAKENGON (SJN.Com) — Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggelar event pacuan kuda dalam rangka HUT Kota Takengon yang du wacanakan bulan depan menuai kecaman tajam.

Di saat masyarakat masih tertatih memulihkan diri pascabencana, pemerintah justru dinilai abai terhadap realitas di lapangan, terlebih kondisi belum benar-benar stabil, dengan banjir susulan yang masih terjadi setelah Aceh Tengah kembali diguyur hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Sorotan keras datang dari Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Aceh Tengah, Rahmat Roza, Selasa (14/04/26). Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk kegagalan membaca situasi krisis yang masih membelit warga.

Baca Juga  Dari Rumah Papan 3x3 Meter, Kasmawati Kini Tinggal di Hunian Layak Berkat TMMD Ke-126

“Ini bukan soal event atau tradisi, ini soal empati yang hilang. Rakyat belum pulih, bahkan masih dihantui banjir susulan, tapi pemerintah malah sibuk bikin panggung hiburan,” tegas Rahmat.

Menurutnya, langkah Dinas Pariwisata Aceh Tengah sebagai pelaksana event menunjukkan bahwa prioritas anggaran dan kebijakan daerah sedang tidak berpihak pada rakyat. Ia menilai, di tengah kondisi banyak warga yang masih berjuang memperbaiki rumah, ekonomi, dan trauma pascabencana, penyelenggaraan pacuan kuda justru mencederai rasa keadilan.

Rahmat juga menyoroti klaim bahwa event tersebut akan mendorong pemulihan ekonomi. Ia menilai narasi itu menyesatkan dan tidak berpijak pada kenyataan di lapangan.

Baca Juga  HIMA-ATE Gelar Aksi Damai di Simpang Lima Takengon

“Dibilang untuk pemulihan ekonomi, itu omong kosong. Faktanya, pedagang yang masuk justru didominasi dari luar Aceh Tengah, bahkan dari luar Provinsi Aceh. Masyarakat lokal cuma jadi penonton di daerahnya sendiri,” katanya.

Ia menegaskan, jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka manfaat ekonomi hanya akan bocor keluar daerah, sementara warga yang terdampak bencana tetap tidak merasakan dampak signifikan.

“Kalau pemerintah masih punya hati, yang didahulukan itu pemulihan, bukan seremoni. Ini bukan cuma keliru, ini keterlaluan,” lanjutnya.

Baca Juga  BSI Aceh Tengah dan Bener Meriah Santuni Ratusan Anak Yatim

Rahmat juga mempertanyakan urgensi kegiatan tersebut, yang dinilai tidak memiliki sensitivitas sosial di tengah situasi darurat. Ia mendesak pemerintah daerah untuk membatalkan rencana tersebut dan mengalihkan seluruh fokus pada penanganan dampak bencana yang masih nyata dirasakan masyarakat.

“Jangan tunggu kemarahan publik meledak. Hentikan sekarang. Rakyat butuh solusi, bukan tontonan,” Pungkas Rahmat Rozi dengan kecewa.

Suarajurnalisnews.com telah mengupayakan konfirmasi kepada Dinas Pariwisata Aceh Tengah terkait rencana pelaksanaan pacuan kuda di tengah kondisi banjir susulan, namun hingga berita ini diterbitkan belum diperoleh tanggapan resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *