Oleh : Bung Satria Darmawan | BSD
Pacuan Kuda Tradisional Gayo bukan sekadar olahraga; ia adalah denyut nadi budaya dan magnet kerumunan bagi masyarakat di Dataran Tinggi Gayo.
Pasca diterjang berbagai cobaan bencana dan tantangan ekonomi, perhelatan ini digadang-gadang sebagian orang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi (economic engine) yang mampu membangkitkan kembali kesejahteraan warga Aceh Tengah.
Namun, benarkah demikian? Ataukah kita sedang terjebak dalam euforia semu yang justru membuat kantong daerah “boncos”?
Ironi di Balik Riuh Penonton
Setiap kali debu lintasan pacuan membumbung ke langit, ribuan orang tumpah ruah. Secara kasat mata, transaksi terjadi di mana-mana. Namun, jika kita membedah lebih dalam siapa yang memanen keuntungan, sebuah fakta pahit menyeruak ke permukaan: 90 persen pedagang yang mengisi lapak-lapak di sekitar arena ternyata datang dari luar daerah.
Fenomena ini memicu pertanyaan krusial tentang multiplier effect (efek pengganda) ekonomi lokal. Ketika pedagang didominasi oleh pelaku usaha dari luar Aceh Tengah, maka “pesta” ini hanyalah ajang pengumpulan modal yang kemudian dibawa pulang ke daerah asal mereka (capital flight).
Uang yang dikeluarkan warga Aceh Tengah langsung berpindah tangan ke pedagang luar dan keluar dari siklus ekonomi kabupaten dalam waktu singkat.
Infrastruktur : Roda Ekonomi yang Sesungguhnya
Banyak kalangan memandang perlu adanya kejujuran dalam melihat realitas. Kita harus sadar bahwa roda penggerak ekonomi yang sebenarnya bagi Aceh Tengah bukanlah event tahunan seperti pacuan kuda yang sifatnya temporer.
Prioritas pembangunan ekonomi pascabencana seharusnya diarahkan pada perbaikan jalan menuju sentra-sentra produksi dan pemulihan akses jalan utama yang terputus akibat bencana hidrometeorologi.
Bagaimana ekonomi bisa tumbuh berkelanjutan jika hasil tani sulit keluar dari desa dan biaya logistik membengkak akibat akses yang rusak?
Memberbaiki urat nadi distribusi jauh lebih krusial untuk keberlangsungan hidup petani dan pengusaha lokal daripada sekadar menciptakan keramaian sesaat di arena pacuan.
Jalan yang mulus menuju kebun-kebun kopi dan sentra hortikultura adalah investasi nyata, sedangkan event besar tanpa proteksi pedagang lokal hanyalah panggung bagi orang luar untuk mengeruk keuntungan.
Gairah atau Boncos?
Jika niat utamanya adalah “Menggerakkan Ekonomi Pascabencana”, maka strategi yang diterapkan saat ini perlu dievaluasi total. Tanpa batasan yang jelas bagi pedagang luar, pemerintah daerah seolah-olah hanya menyediakan tempat bagi orang lain untuk memanen hasil di tanah sendiri, sementara warga lokal hanya menjadi penonton atau konsumen yang konsumtif.
Alih-alih menjadi pemulih ekonomi, acara ini berisiko menjadi ajang pemborosan bagi masyarakat lokal, sementara mereka gagal menjadi produsen atau penjual yang dominan.
Menagih Keberpihakan
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk tidak terlena dengan angka kunjungan penonton. Gairah budaya harus berjalan seiring dengan kedaulatan ekonomi. Langkah konkret seperti memberikan kuota mayoritas bagi UMKM asli Gayo dan mempercepat perbaikan akses jalan utama adalah bukti nyata keberpihakan kepada rakyat.
Jangan sampai Pacuan Kuda Gayo hanya menyisakan lelah dan sampah bagi warga Aceh Tengah, sementara manisnya laba dinikmati oleh mereka yang datang hanya saat pesta dimulai dan pergi saat debu mulai mereda. Ekonomi pascabencana butuh fondasi jalan yang kokoh, bukan sekadar riuh rendah di garis finis. **



