Bener Meriah – Lima bulan pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada 26 November 2025 lalu, sejumlah akses jalan dan jembatan di Kabupaten Bener Meriah hingga kini belum seluruhnya tersentuh pembangunan, jum’at (17/04/26).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Jembatan Perumpakan Benjadi yang merupakan akses utama bagi warga Desa Simpur, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah. Hingga April 2026, belum terlihat adanya tanda-tanda perbaikan pada jembatan tersebut.
Akibat kondisi ini, warga terpaksa melintasi aliran sungai untuk beraktivitas sehari-hari. Situasi semakin berisiko saat debit air meningkat, terutama ketika hujan turun dan menyebabkan arus sungai meluap serta semakin deras.
Ironisnya, kondisi tersebut telah berulang kali menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Tidak sedikit warga yang terjebak di tengah derasnya arus sungai saat mencoba menyeberang, bahkan harus kehilangan harta benda mereka.
Peristiwa memilukan kembali terjadi pada Rabu, 15 April 2026. Seorang warga Simpur bernama Ependi mengalami musibah saat mobil miliknya terseret arus sungai. Kendaraan tersebut hanyut dan mengalami kerusakan parah.
Selain itu, dua unit sepeda motor milik warga lainnya juga dilaporkan hanyut dan hingga kini belum ditemukan.
Kondisi ini memicu keluhan dari seluruh masyarakat Desa Simpur yang merasa kecewa atas lambatnya penanganan pemerintah dalam membangun kembali jembatan dan akses jalan yang menjadi kebutuhan vital mereka.
Ependi, salah satu korban, mengungkapkan harapannya agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata. Ia berharap pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan guna menghindari jatuhnya korban dan kerugian lebih besar di masa mendatang.



