BENER MERIAH (SJN.Com) — Praktik yang mencederai dunia pendidikan kembali mencuat. Kali ini datang dari SMAN Unggul Binaan Bener Meriah yang justru memperlihatkan wajah buram di balik label “unggul”.
Kondisi ini memicu kritik keras dari Cak Dier, yang menyebut praktik tersebut sebagai bentuk pungutan liar yang dilegalkan secara diam-diam.
Cak Dier kepada suarajurnalisnews.com, Sabtu (25/04/26) mengatakan, Dalam proses pendaftaran ulang calon siswa/i baru, muncul sejumlah biaya yang dipaksakan tanpa kejelasan dasar aturan. Yang paling mencolok adalah dimasukkannya biaya pembelian sampul raport, hal sepele yang seharusnya bukan menjadi beban wajib, apalagi dijadikan bagian dari paket pembayaran resmi.
“Kalau biaya kecil seperti sampul raport saja dimasukkan ke dalam paket wajib, itu sudah tanda ada yang tidak beres. Apalagi uang kegiatan dan komite digabung tanpa kejelasan. Ini bukan lagi kelalaian, ini pola,” tegas cak dier
Lebih janggal lagi, terdapat pungutan dengan dua nama berbeda: “uang kegiatan siswa” sebesar Rp20.000 dan “uang komite” sebesar Rp100.000. Namun dalam praktiknya, kedua biaya ini digabung dan ditarik sekaligus atas nama komite. Tidak ada transparansi. Tidak ada pemisahan yang jelas. Ini bukan lagi administrasi, ini pengaburan.
“Kenapa harus digabung? Kalau memang transparan, pisahkan. Jelaskan. Jangan semua dibungkus dengan satu label lalu ditarik sekaligus,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bagaimana istilah “komite” sering dijadikan tameng untuk menarik dana dari orang tua siswa tanpa mekanisme yang transparan dan akuntabel.
“Komite itu bukan alat pungutan. Kalau semua dipaksa bayar dan digabung seperti ini, di mana letak musyawarahnya? Ini pemaksaan yang dibungkus rapi,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia menilai praktik seperti ini berpotensi melanggar prinsip dasar pendidikan yang seharusnya menjunjung akses yang adil dan bebas dari tekanan finansial yang tidak jelas.
“Sekolah unggul tapi cara menarik uangnya seperti ini? Jangan heran kalau kepercayaan publik runtuh. Pendidikan bukan tempat mencari celah untuk pungutan,” tegasnya
Cak Dier juga menyebutkan dalam waktu dekat akan segera berkoordinasi langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi Aceh.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan di Bener Meriah. Jika dibiarkan, praktik serupa bukan hanya akan terus berulang, tetapi juga akan menjadi budaya yang merusak integritas sekolah itu sendiri.
Sementara itu, tim juga berupaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SMAN Unggul Binaan Bener Meriah, tetapi hingga berita ini diterbitkan belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak terkait.




