REDELONG (SJN.Com) — Apa yang terjadi di Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, bukan lagi seperti aktivitas tambang biasa. Ini sudah berubah menjadi ancaman terbuka. Galian C yang beroperasi di kaki Gunung Burni Telong diduga kuat keluar dari titik koordinat izin, menggali tanpa kendali, dan menyeret jalan warga ke bibir jurang.
Badan jalan yang selama ini dilalui masyarakat kini nyaris habis digerus. Tanah di sisi jalan dipangkas tajam, menyisakan tepi rapuh yang bisa runtuh kapan saja. Tidak ada pembatas. Tidak ada pengaman. Tidak ada tanda bahaya. Yang ada hanya lubang menganga menunggu korban.
“Kalau malam lewat situ, itu bukan lagi jalan itu perangkap,” kata seorang warga, sabtu (25/04/26).
Risikonya jelas dan mengerikan. Jika jalan itu putus, siapa pun yang melintas di malam hari bisa langsung terjun ke jurang tanpa ampun. Dalam gelap, tanpa penerangan, tanpa rambu, satu kesalahan kecil saja cukup untuk mengakhiri segalanya. Ini bukan lagi potensi bahaya, ini ancaman nyata yang tinggal menunggu waktu.
Ironisnya, semua ini terjadi dengan dalih izin. Legalitas dijadikan tameng, sementara batas koordinat diinjak-injak di lapangan. Aturan hanya hidup di atas kertas, mati di lokasi galian.
Lebih parah lagi, lokasi ini berada tidak jauh dari Mapolres Bener Meriah. Aktivitas terlihat jelas, dampaknya terasa langsung, tapi respons nyaris tak terdengar. Tidak ada penghentian. Tidak ada tindakan tegas. Yang tampak justru pembiaran.

Di kaki Burni Telong yang secara alami rentan, pengerukan seperti ini adalah bom waktu. Tanah terus dilemahkan, lereng terus dipangkas, dan keselamatan warga dipertaruhkan setiap hari.
Ini bukan lagi soal pelanggaran administrasi. Ini soal nyawa yang dipertaruhkan di atas jalan yang setiap saat bisa hilang. Dan ketika semua itu terjadi di depan mata tanpa ada yang menghentikan, satu hal menjadi terang, bahaya dibiarkan tumbuh, dan warga dipaksa menghadapi risikonya sendiri.
Untuk lebih lanjut Tim Suarajurnalisnews.com akan segera berkoordinasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) setempat.
Upaya Konfirmasi
Redaksi berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola tambang. Namun, identitas pengelola serta kontak resmi tidak ditemukan melalui penelusuran yang dilakukan, sehingga tidak ada pihak yang dapat dimintai keterangan hingga berita ini diterbitkan.
Redaksi juga secara terbuka akan memberi ruang untuk pihak terkait memberikan ruang hak jawab




