Lebaran Berubah Jadi Ancaman, Kemacetan di Jalan Maut Mengintai di Bener Meriah, Aktivis Gayo : Seolah Ini Ada Pembiaran 

Ilustrasi kemacetan di jalan yang rusak akan menimbulkan laka.
Ilustrasi kemacetan di jalan yang rusak akan menimbulkan laka.

Bener Meriah (SJN.Com) — Lebaran 2026 di Bener Meriah bukan lagi soal pulang kampung. Ini tentang siapa yang selamat sampai tujuan. Di tengah lonjakan arus mudik, kemacetan brutal dan kecelakaan lalu lintas justru dibiarkan tumbuh menjadi ancaman nyata, tanpa kendali, tanpa solusi.

Sabtu (28/3/2026), kawasan Wih Porak, Kecamatan Pintu Rime Gayo, berubah menjadi neraka jalanan. Jalur utama Takengon–Bireuen lumpuh total. Antrean kendaraan mengular tanpa kepastian, mesin menyala berjam-jam, pengemudi terjebak, emosi memuncak dan risiko maut semakin dekat.

Baca Juga  Warga Desa Uning Mas  Berharap  Huntara Dibangun di Kampung Sendiri

Semua ini bermula dari penutupan Jalan Enang-Enang. Namun yang lebih fatal: jalur alternatif yang dipaksakan sebagai pengganti justru tidak layak pakai. Sempit, rusak, minim rambu, dan tanpa pengawasan. Sebuah resep lengkap menuju bencana.

Aktivis Gayo, Cakdier, menyebut kondisi ini bukan lagi kelalaian melainkan pembiaran yang berbahaya.

“Ini bukan macet biasa. Ini jalan yang sengaja dibiarkan jadi jebakan. Pemerintah tahu risikonya, tapi tetap tidak bergerak. Kalau sudah ada korban, baru sibuk,” tegasnya tajam.

Baca Juga  Edar Sabu Antar Kabupaten Dua Pemuda di Ringkus di Bener Meriah

Kerusakan jalan pasca peristiwa alam yang tak kunjung diperbaiki menjadi bukti nyata lambannya respons. Di saat arus kendaraan meningkat drastis, kondisi infrastruktur justru dibiarkan rapuh. Tak ada kesiapan, tak ada antisipasi.

Lebih parah lagi, laporan kecelakaan mulai bermunculan. Permukaan jalan yang hancur, minimnya rambu, serta kelelahan pengemudi akibat terjebak berjam-jam menjadi kombinasi mematikan yang setiap saat bisa merenggut nyawa.

Baca Juga  Reje Kampung Tingkem Benyer Diduga Diskriminatif, Pemutusan Air Bersih Dinilai Tidak Adil

Ironisnya, hingga detik ini, tidak ada kejelasan langkah darurat. Tidak ada transparansi. Tidak ada kepastian kapan perbaikan dilakukan. Yang ada hanya diam sementara masyarakat dipaksa bertaruh nyawa di jalan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin Bener Meriah akan mencatat Lebaran paling kelam dalam sejarahnya. Pertanyaannya: harus berapa korban lagi agar ada tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *