ACEH TENGAH, (SJN.Com)— 26 Maret 2026.
Malam yang biasanya sunyi di Desa Pedemun berubah mencekam. Senin (23/3/2026), sebuah rumah sederhana yang ditempati Sukurdi korban banjir bandang mendadak menjadi pusat ketegangan. Sehari setelah namanya muncul dalam pemberitaan dugaan pungutan liar bantuan bencana, keributan pecah.
Informasi yang diterima media ini dari aparatur kampung menyebut, malam itu terjadi adu argumen antara Sukurdi dan sejumlah aparatur desa yang datang, termasuk Reje Pedemun, Abdurrahman, serta Manjardi yang sebelumnya disebut sebagai delegasi.
Apa yang awalnya disampaikan Sukurdi sebagai bentuk keterbukaan, justru berbalik menjadi tekanan. Keesokan harinya, Selasa, dengan nada berbeda, Sukurdi menghubungi redaksi media ini. Ia meminta agar keterangannya dihapus. Permintaan itu, menurut pengakuannya, bukan tanpa alasan.
Ia mengaku berada dalam situasi tertekan setelah pertemuan malam sebelumnya—forum tak resmi yang berubah menjadi ruang intimidasi. Adu argumen disertai tekanan verbal membuatnya terpojok, bahkan berdampak pada kondisi psikologis keluarganya.
“Anak dan istri saya sampai trauma,” ungkapnya.
Namun tekanan tak berhenti di situ.
Rabu siang (24/3/2026), sekitar pukul 11.00 WIB, pertemuan kembali digelar di kantor desa. Alih-alih menjadi ruang klarifikasi, suasana justru kembali memanas.
Sukurdi dan saksi lain menggambarkan forum itu sarat tekanan. Perdebatan berlangsung dengan nada tinggi, bahkan disebut muncul ucapan bernuansa ancaman.
Dalam situasi tersebut, muncul dorongan agar Sukurdi menghentikan persoalan dugaan pemotongan bantuan yang sebelumnya ia ungkap.
Di sisi lain, Manjardi membantah keras tudingan yang diarahkan kepadanya. Bantahan itu, menurut sejumlah keterangan, disampaikan dengan emosi tinggi.
Sementara itu, beberapa aparatur desa yang enggan disebutkan namanya mengaku sempat mendengar adanya penyerahan sejumlah uang dari penerima bantuan kepada reje. Namun informasi ini masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, Sukurdi akhirnya memilih mundur.
Ia menyampaikan permohonan maaf keputusan yang diakuinya diambil dalam kondisi tertekan.
“Rangkaian kejadian dua hari ini sangat melelahkan dan menguras energi saya. Saya masih punya tanggung jawab keluarga. Saya tidak mau berurusan dengan polisi. Saya juga sedang sakit. Lebih baik saya mengalah dan meminta maaf,” ujarnya dengan nada getir
Kisah Sukurdi menjadi potret lain dari polemik dugaan pungli bantuan bencana di Desa Pedemun.
Ini bukan sekadar soal angka atau aliran dana. Ini tentang keberanian warga bersuara dan risiko yang mengintai di baliknya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Reje Pedemun maupun aparatur desa terkait dugaan tekanan tersebut.
Di tengah situasi ini, publik menuntut jaminan perlindungan bagi warga yang berani bicara, serta penanganan objektif dari aparat penegak hukum.
Sebab di balik setiap bantuan, ada harapan untuk bangkit.
Dan di balik setiap suara, ada keberanian yang kerap harus dibayar mahal.

-




