Oleh : SH, Tokoh Masyarakat Kabupaten Bener Meriah
Di balik setiap tikungan dan tanjakan terjal di Jalan Tajuk Enang-Enang, tersimpan kisah panjang perjuangan yang membanggakan hati masyarakat Gayo. Jalan yang membentang di wilayah Kecamatan Derakal, Kabupaten Bener Meriah, ini bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah, bukti nyata pengorbanan, serta lambang semangat gotong royong yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut cerita yang hidup turun-temurun, Jalan Tajuk Enang-Enang telah dimanfaatkan sejak ratusan tahun silam. Sebagai urat nadi utama, jalan ini menghubungkan berbagai wilayah di Tanah Gayo: Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara. Melalui jalur inilah para leluhur membawa hasil bumi, menjalin silaturahmi, dan membangun kehidupan bersama. Nilainya bukan hanya ekonomi, tetapi juga sangat mendalam dari sisi sejarah dan jati diri budaya.
Namun, keistimewaannya tidak hanya terletak pada usia. Jalan ini menyimpan kisah pengorbanan yang menyentuh hati. Ketika kerusakan datang dan bantuan belum kunjung tiba, masyarakat justru bangkit dengan kekuatan terbesarnya: kebersamaan. Salah satu sosok yang dikenang adalah Sahrial Abadi beserta rekan-rekannya, yang bahkan rela menjual tanah miliknya demi mendukung perbaikan jalan. Semangat ini menggerakkan banyak pihak untuk turut menyumbangkan tenaga, harta, dan pikiran. Peristiwa ini membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu bergantung pada anggaran besar, melainkan seringkali tumbuh dari ketulusan hati rakyat.
Ungkapan “dibangun dengan keringat dan darah” bukan sekadar kiasan. Bagi warga, kalimat itu adalah gambaran nyata perjuangan menembus medan pegunungan yang sulit, menghadapi cuaca yang tidak menentu, serta mengorbankan waktu dan tenaga demi mempertahankan jalur kehidupan yang telah diwariskan oleh para pendahulu mereka.
Terkini: Penutupan yang Menimbulkan Kekecewaan
Baru-baru ini, pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Aceh datang ke lokasi dan menutup akses jalan tersebut dengan alasan kondisi belum aman untuk dilalui. Namun, apa yang terlihat di lapangan sangat berbeda. Berdasarkan kondisi yang ada, hanya sekitar 30 meter bagian jalan yang belum selesai diaspal dan memang belum siap digunakan oleh kendaraan.
Ketimpangan antara alasan penutupan dan kondisi nyata di lapangan inilah yang memicu kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang telah berjuang mempertahankan jalan ini selama bertahun-tahun, penutupan secara menyeluruh terasa tidak adil. Jalan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pertanian, perdagangan, pendidikan, hingga hubungan sosial, tiba-tiba tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Mereka melihat secara langsung bagaimana jalan tersebut dibangun dan diperjuangkan. Mereka mengetahui siapa saja yang terlibat, siapa yang mengorbankan tenaga, bahkan siapa yang rela mengorbankan harta benda pribadi demi memastikan jalan ini tetap bisa digunakan oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, ketika akses jalan ditutup tanpa adanya penyelesaian yang jelas terhadap bagian yang masih bermasalah, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai efektivitas dan tujuan dari kebijakan tersebut.
Dalam pandangan masyarakat, ada satu hal yang perlu disampaikan dengan jujur. Jika pemerintah berniat menutup jalan karena alasan keamanan, maka sebaiknya segera diikuti dengan tindakan nyata untuk menyelesaikan perbaikannya. Namun jika tidak ada rencana pengerjaan yang jelas, maka jangan hanya sekadar menutup atau mengeluarkan peringatan yang berujung pada kerugian. Sikap seperti itu justru menjadikan anggaran yang telah dikeluarkan terbuang percuma, sia-sia belaka, dan tidak memberikan manfaat apa pun bagi kesejahteraan rakyat.
Masyarakat tentu memahami bahwa faktor keselamatan harus menjadi prioritas. Tidak ada warga yang menginginkan kecelakaan atau risiko yang membahayakan pengguna jalan. Akan tetapi, keselamatan juga harus dibarengi dengan solusi yang nyata. Menutup jalan tanpa memberikan kepastian mengenai kapan pekerjaan akan diselesaikan hanya akan memperpanjang kesulitan masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.
Sudah selayaknya jalan bersejarah ini tidak hanya dihormati sebagai monumen perjuangan, tetapi juga dikelola dengan bijak, bertanggung jawab, dan tidak membuang sumber daya yang ada. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu duduk bersama dengan masyarakat, menjelaskan rencana penanganan secara terbuka, serta mencari solusi yang tidak melumpuhkan kehidupan warga.
Jalan Enang-Enang bukan hanya milik satu kelompok atau satu generasi. Ia adalah warisan bersama yang telah menghubungkan kehidupan masyarakat Gayo selama puluhan bahkan ratusan tahun. Setiap jengkal jalannya menyimpan cerita perjuangan, kerja keras, dan harapan banyak orang. Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut keberlangsungan jalan ini seharusnya mempertimbangkan aspek sejarah, sosial, ekonomi, dan kepentingan masyarakat secara menyeluruh.
Jalan Enang-Enang mengajarkan kita satu hal penting: ia bukan sekadar tumpukan batu dan aspal. Di dalamnya ada doa, pengorbanan, dan sejarah yang menjadikannya bermakna. Selama masyarakat Gayo masih menjaga ingatan akan perjuangan pendahulunya, jejak keringat dan darah di jalan ini akan tetap hidup dan menuntut perhatian serta pengelolaan yang layak, efisien, dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan rakyat.
“Jika pemerintah berniat menutup jalan karena alasan keamanan, maka sebaiknya segera diikuti dengan tindakan nyata untuk menyelesaikan perbaikannya. Namun jika tidak ada rencana pengerjaan yang jelas, maka jangan hanya sekadar menutup atau mengeluarkan peringatan yang berujung pada kerugian. Sebab rakyat tidak membutuhkan alasan semata, melainkan kepastian dan penyelesaian yang nyata.”




