Gaji Raib, DLH Aceh Tengah dalam Bayang-Bayang Skandal Anggaran

Minggu (12/04). Sudah sebulan berlalu, namun ratusan pegawai di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Tengah masih belum menerima hak mereka.

TAKENGON (SJN.Com)— Minggu (12/04). Sudah sebulan berlalu, namun ratusan pegawai di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Tengah masih belum menerima hak mereka. Upah kerja yang seharusnya dibayarkan tepat waktu justru menghilang tanpa kepastian, menyisakan beban hidup yang kian menekan.

Nilai tunggakan yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah bukan sekadar angka. Besaran itu membuka dugaan serius: ada yang tidak beres dalam pengelolaan anggaran. Di balik keterlambatan ini, mulai mencuat indikasi kelalaian hingga potensi penyimpangan yang menyeret nama oknum mantan kepala dinas.

Baca Juga  Indikator Diabaikan? Penyaluran Bantuan Bencana: BPBD Aceh Tengah Tuai Kecurigaan Adanya Kepentingan Politik.

Sejumlah sumber internal menyebut, tata kelola anggaran di tubuh DLH diduga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dampaknya nyata ratusan pegawai menjadi korban, dipaksa bertahan di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan.

Bagi para pekerja, ini bukan sekadar keterlambatan administratif. Ini soal dapur yang harus tetap mengepul, anak yang harus tetap sekolah, dan kehidupan yang tak bisa menunggu birokrasi berbenah.

Baca Juga  RTLH TMMD ke-126 Kodim 0106 Aceh Tengah Wujudkan Impian Kasmawati Miliki Rumah Layak Huni

Tim telah berupaya melakukan penelusuran dan mengonfirmasi sejumlah pihak terkait, mulai dari Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Asisten II, hingga Kepala Dinas DLH yang saat ini menjabat. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan yang mampu menjawab inti persoalan.

Respons yang disampaikan masih bersifat normatif, tanpa kejelasan arah. Situasi ini justru memperkuat tanda tanya di tengah publik apakah ini sekadar kelalaian, atau ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi?

Baca Juga  Ratusan Warga Ketol Demo Pemkab Aceh Tengah, Tuntut Penanganan Serius Pascabencana

Desakan transparansi pun menguat. Publik menanti langkah tegas untuk membongkar apa yang sebenarnya terjadi, sekaligus memastikan hak para pegawai tidak terus dikorbankan.

Di tengah kabut ketidakpastian, satu hal menjadi jelas: gaji pekerja bukan untuk ditunda, apalagi dihilangkan tanpa alasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *