“Kolusi Daging Sapi, korban Hidrometeorologi dapat sebesar kaki kelinci” 

Ilustrasi praktik kolusi dalam distribusi daging sapi yang diduga terjadi di tengah situasi bencana hidrometeorologi
Ilustrasi praktik kolusi dalam distribusi daging sapi yang diduga terjadi di tengah situasi bencana hidrometeorologi

Opini dalam mimpi   

*Oleh: Nasri Gayo

Pembagian daging meugang bantuan presiden untuk Masyarakat korban bencana di bener meriah menjadi isu yang hangat sehangat minuman kopi susu tampa gula di pagi  hari, dari dugaan kurang tranparasinya penggunan dana bantuan Presiden tersebut sampai isu oknum wartawan yang terlalu transparan minta jatah agar tidak lari pagi

Fenomema ini tentu memantik ruang diskusi dari kursi-kursi yang tertata rapi sampai  ke media sosial yang kadang-kadang memaki karna tak tau diri dalam narasi, tapi bisa menghantui ruang emosi yang tak terkendali dan semoga tidak jadi kasus gantung diri bagi pejabat pengendali.

Baca Juga  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025 M di Desa Gunung Sayang Berlangsung khidmat

Namun, kadang ada informasi yang cukup basi sehingga Pamali dalam bernarasi dan pembaca bisa bosan sendiri, karena informasi kadang bukan klarifikasi yang di ingini tapi petunjuk agar tidak menjilat ludah sendiri dan periuk nasi tetap berisi.

Sedikit catatan informasi ini semoga bisa mengisi ruang hati agar emosi terkendali, dan pak polisi tidak lagi nunggu pakai dasi agar dapat aroma kolusi yang hampir bau terasi.

Kabupaten Bener Meriah sampai saat ini terdiri dari 10 kecamatan dan 232 desa, untuk Kabupaten ini mendapat jatah dana untuk dibelanjakan menjadi daging meugang adalah sebesar 4,5 miliar rupiah dan sudah pasti pembeli sapi itu butuh tranparansi tampa kolusi dan tidak ada campuran daun kopi walaupun negeri ini sebagi penghasil kopi terbaik kata mereka.

Baca Juga  Cegah Balap Liar Jelang Ramadhan, Satlantas Polres Bener Meriah Gelar Patroli Malam. 

Siapapun bisa menduga bahwa dalam penggunaan dana ini  kurang transparansi, karena memang tidak ada informasi akurat sudah sampai dimana cerita kawan nasi ini dan kita harap Pak polisi harus tau diri bahwa ini ada potensi korupsi.

Kita yakin bahwa daging ini daging sapi murni bukan daging dari babi yang lagi mati suri, kata bapak pencandu kopi itu tidak semua kecamatan dapat daging sapi tapi juga jangan cari daging kelinci untuk jadi kawan nasi, lain lagi kata ibu  yang tidak suka pakek rok mini bahwa daging sapi ini hanya untuk korban tragedi hidrometeorologi bukan untuk korban tsunami.

Baca Juga  Siswa SLTA dan SMK Ikuti Sosialisasi "Polisi Saweu Sikula"

Ibu pejabat yang masih suka menyediri itu seharusnya bisa menjaga emosi agar aroma bau terasi tidak merusak harga diri, karena disini banyak yang hobi klarifikasi walaupun narasi kadang kadang cukup untuk sehari.

Cukup banyak kalkulasi dalam mencari daging sapi sehingga sampai ke suami istri korban hidrometeorologi tidak lebih besar dari paha kelinci, namun pundi pundi sang pencari hampir sama tinggi dengan badan diri yang sulit jujur dalam mimpi.

Cukup sekian catatan untuk menemani kopi pagi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *